Jumat, 08 Juli 2011

Pengaruh Ekstrak Etanol Kayu Ular (Strychnos lucida) Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Mencit (Mus musculus) Diabetes Mellitus


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Indonesia kaya akan berbagai macam tumbuhan yang berpotensi sebagai bahan baku obat. Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional belum optimal karena keterbatasan pengetahuan ilmiah tentang tumbuhan obat itu sendiri. Obat tradisional merupakan obat-obatan yang diolah secara tradisional dengan menggunakan bagian tanaman seperti rimpang, batang, buah, daun dan bunga (Astirin, 2002).
Masyarakat pada umumnya menggunakan obat tradisional berdasarkan pengalaman secara turun temurun, dan masih berlangsung sampai sekarang. Berdasarkan survei Departemen Kesehatan RI, 49% penduduk terutama yang tinggal di daerah pedesaan masih memanfaatkan tumbuhan dan tanaman liar sebagai obat tradisional untuk menjaga kesehatan (Astirin, 2002).
Salah satu tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat sebagai obat tradisional adalah kayu ular, yang mempunyai nama ilmiah Strychnos lucida. Senyawa kimia yang terkandung dalam kayu ular telah diketahui yaitu alkaloid (brusina, striknina), tannin < 1%, steroid/ triterpenoid (saponin). Senyawa kimia yang terkandung dalam tumbuhan kayu ular dapat masuk dan mempengaruhi jantung, hati, paru-paru, usus besar, dan usus kecil, sedangkan efek farmakologisnya yaitu memiliki rasa pahit (Indraswari, 2008). Kayu ular dilaporkan berkhasiat sebagai obat penambah nafsu makan, rematik, sakit perut, bisul, kurap, radang kulit bernanah, dan mengatasi gula darah atau penyakit diabetes mellitus (Supriadi, 1986).
Diabetes millitus (DM) adalah suatu jenis penyakit yang disebabkan menurunnya hormon insulin yang diproduksi oleh kelenjar pankreas. Penurunan hormon ini mengakibatkan seluruh gula (glukosa) yang dikonsumsi tubuh tidak dapat diproduksi secara sempurna, sehingga kadar glukosa didalam tubuh akan meningkat. Pada manusia, kadar puasa normal 80 – 90 mg / dl darah, atau rentang non puasa sekitar 140 – 160 mg /100 ml darah (Hamid, 2009).
Beberapa penelitian pada mencit menunjukkan bahwa DM dapat menyebabkan kegagalan metabolisme glukosa, lipid, dan protein. Kegagalan penggunaan karbohidrat akan menyebabkan hiperglikemia dan mempercepat lipolisis sehingga dapat menimbulkan keadaan hiperlipidemia. Defisiensi insulin dapat menyebabkan gangguan proses biokimia dalam tubuh, seperti penurunan pemasukan glukosa ke dalam sel dan peningkatan pelepasan glukosa dari hati ke dalam sirkulasi darah. Hal inilah yang menyebabkan hiperglikemia (Rindiastuti, 2008 ) .
Penanganan terhadap penyakit diabetes mellitus sangat perlu untuk dilakukan, karena penyakit diabetes mellitus dapat menyebabkan komplikasi kronik seperti penyakit jantung koroner, gangguan fungsi ginjal, penyakit lever, serta dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan serius. Menurut penelitian epidemiologi, di Indonesia penderita diabetes mellitus dari 2,5 juta jiwa pada tahun 2000 meningkat menjadi 4 juta jiwa dan pada tahun 2010 meningkat menjadi 5 juta jiwa. Hal ini yang mendorong dilakukannya penelitian terhadap tumbuhan yang  berpotensi sebagai obat antidiabetes. Untuk membuktikan kebenaran kayu ular (Strychnos lucida) sebagai obat antidiabetes, diperlukan penelitian ilmiah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh ekstrak etanol kayu ular (Strychnos lucida) terhadap penurunan kadar gula darah, yang diberikan pada mencit yang mengalami diabetes mellitus.
B.   Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah  apakah ekstrak etanol  kayu ular dapat menurunkan kadar gula darah pada mencit yang mengalami diabetes mellitus?
C.   Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak etanol kayu ular terhadap penurunan kadar gula darah mencit yang menderita diabetes mellitus.
D.   Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah kepada masyarakat mengenai khasiat kayu ular (Strychnos lucida) sebagai tumbuhan obat tradisional yang dapat menyembuhkan penyakit  diabetes mellitus,  dan  kepada mahasiswa yang akan melakukan penelitian lanjutan.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Diabetes Mellitus
Diabetes melitus atau kencing manis adalah suatu gangguan kronis yang menyangkut metabolisme glukosa, lemak, dan protein akibat dari kekurangan hormon insulin yang berfungsi memanfaatkan glukosa sebagai sumber energi dan mensintesis lemak. Ini berakibat pada menumpuknya glukosa dalam darah dan akhirnya diekskresikan lewat kemih tanpa digunakan. Oleh karena itu, produksi kemih meningkat dan penderita diabetes melitus harus sering kencing, merasa amat haus, berat badan menurun, dan merasa lelah ( Tjay, 2002 ).
Penderita diabetes melitus akan mengalami peningkatan kadar gula darah yang melebihi batas normal yaitu lebih dari 200 mg/dl atau lebih (Bakar, 1996 ). Menurut Rotti dalam Darmansjah (1994) pada penderita diabetes melitus, kadar insulin rendah disebabkan oleh defisiensi sekresi insulin. Sedangkan menurut Guyton ( 1997 ) insulin berperan meningkatkan pemakaian glukosa sebagai energi bagi jaringan tubuh, dan secara otomatis mengurangi pemakaian sumber lain yaitu lemak. Sel-sel pankreas secara normal mensekresikan 40-60 unit insulin setiap harinya. Insulin meningkatkan pengambilan glukosa, asam amino, asam lemak dan mengubahnya menjadi bahan-bahan yang disimpan dalam sel-sel tubuh. Glukosa dapat diubah menjadi glikogen untuk keperluan glukosa dimasa mendatang dalam hati dan otot, sehingga menurunkan kadar gula dalam darah. Insulin adalah salah satu hormon terpenting yang mengkoordinasikan penggunaaan energi oleh jaringan. Biosintesis insulin melibatkan 2 prekusor tidak aktif, yaitu preproinsulin dan proinsulin. Prekusor ini secara berurutan pecah membentuk hormon aktif. Insulin didegradasi oleh enzim insulinase yang terdapat di hati dan dalam jumlah kecil dan terdapat di ginjal dan memiliki umur paruh plasma sekitar 6 menit (Istiani, 2008).
Menurut Adam dalam Harini (2008), secara klinis diabetes mellitus diklasifikasikan sebagai berikut :
a). Diabetes mellitus tipe I
Pada diabetes tipe 1, sel ß pankreas mengalami kerusakan sehingga tidak dapat  mensekresi hormon insulin. Diabetes tipe 1 dapat diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa. Untuk menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 1, dilakukan terapi insulin. Penderitanya harus mendapatkan suntikan insulin setiap hari selama hidupnya, sehingga dikenal dengan istilah Insulin-Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) atau diabetes mellitus yang tergantung pada insulin untuk mengatur metabolisme gula dalam darah. Dari kondisinya, jenis diabetes inilah yang paling parah. Diabetes Tipe I ini biasanya ditemukan pada penderita yang mulai mengalami diabetes sejak anak-anak atau remaja, sehingga pada zaman dulu para dokter menyebutnya sebagai diabetes anak muda. Separuh dari penderita diabetes yang mengidapnya adalah usia dewasa, tetapi tidak berbadan gemuk seperti umumnya penderita Diabetes Tipe II. Para peneliti menyebutnya sebagai Diabetes Tipe 1,5, atau LADA (Latent Autoimmune Diabetes in Adults), karena sistem imun menyerang (reaksi autoimun) sel-sel β pankreas secara perlahan-lahan sehingga berhenti memproduksi insulin.
Penderita Diabetes Tipe I sangat rentan terhadap komplikasi jangka pendek. Penyakit  ini, dapat menyebabkan dua komplikasi yang erat hubungannya dengan perubahan kadar gula darah, yaitu terlalu banyak gula darah (hiperglikemia) atau kekurangan gula darah (hipoglikemia). Resiko lain dari penderita diabetes tipe I ini adalah keracunan senyawa keton yang berbahaya dari hasil metabolisme tubuh yang menumpuk (ketoasidosis), dengan risiko mengalami koma diabetik.
b). Diabetes mellitus tipe II
Diabetes Tipe II terjadi jika insulin hasil produksi pankreas tidak cukup atau sel lemak dan otot tubuh menjadi kebal terhadap insulin, sehingga terjadilah gangguan pengiriman gula ke sel tubuh. Diabetes Tipe II ini merupakan tipe diabetes yang paling sering dan umum dijumpai, juga sering disebut diabetes yang dimulai pada masa dewasa, dikenal sebagai NIDDM (Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus). Jenis diabetes ini mewakili sekitar 90% dari seluruh kasus diabetes, karena umumnya 4 sampai 5 orang penderita Diabetes Tipe II ini memiliki kelebihan berat badan, maka obesitas sering dijadikan sebagai indikator bagi penderita diabetes.
Diabetes Tipe II ini dapat menurun dari orangtua yang penderita diabetes. Tetapi risiko terkena penyakit ini akan semakin tinggi jika memiliki kelebihan berat badan, sehingga yang menjadi pencetus utama adalah faktor obesitas (gemuk berlebih). Faktor penyebab lain adalah pola makan yang salah, proses penuaan, dan stress yang mengakibatkan terjadinya resistensi insulin. Juga mungkin terjadi karena salah gizi (malnutrisi) selama kehamilan, selama masa anak-anak, dan pada usia dewasa.
c). Diabetes mellitus pada kehamilan.
Istilah ini dipakai terhadap pasien yang menderita hiperglikemia selama kehamilan. Pada pasien-pasien ini toleransi glukosa dapat kembali normal setelah persalinan
d). Diabetes mellitus lain (sekunder)
Pada diabetes mellitus jenis ini hiperglikemia berkaitan dengan penyebab lain yang jelas, meliputi penyakit-penyakit pankreas, pankreatektomi, sindrom cushing, acromegaly dan sejumlah kelainan genetik yang tak lazim.
Penyakit diabetes mellitus ditandai gejala 3P, yaitu poliuria (banyak berkemih) terutama malam hari, polidipsi (banyak minum) dan polifagia (banyak makan). Di samping naiknya kadar gula darah, gejala kencing manis juga ditandai dengan adanya gula dalam kemih (glycosuria). Glukosa yang diekskresikan mengikat banyak air sehingga urin yang dikeluarkan banyak (banyak berkemih) Akibatnya timbul rasa sangat haus, kehilangan energi dan turunnya berat badan serta rasa letih. Tubuh mulai membakar lemak untuk memenuhi kebutuhan energinya, yang disertai pembentukan zat-zat perombakan. 


B.     Induksi  Diabetes Dengan Streptozotocin
Mencit  yang digunakan adalah mencit betina yang menderita diabetes, yaitu mencit betina normal yang diinduksi streptozotosin agar menderita diabetes. Menurut Utami (2003), streptozotosin merupakan bahan toksik yang mampu merusak sel ß secara langsung. Streptozotosin pada awalnya digunakan sebagai anti bakteri, juga diterima sebagai anti tumor.
Streptozotosin adalah antibiotik yang berspektrum luas, mempunyai efek diabetogenik yang paten. Streptozotosin pertama kali diisolasi dari “Streptomyces acromogenes “. Streptozotosin terdiri dari 1- methyl – nitrosourea yang terikat pada C2 dari D- glukosa. Berat molekul 265, tidak berwarna, mengalami dekomposisi pada 115oC membentuk gas, larut dalam air. Substansi ini tidak stabil pada suhu kamar dan temperatur suhu es. Seharusnya disimpan pada suhu di bawah 20o , stabil dalam larutan dengan pH 4 dan temperatur rendah (Vavra dkk, 1960 dalam Nurdiana 1998).
Penyebab hiperglikemia yang kronik sesudah pemberian streptozotosin adalah nekrosis sel beta pankreas. Satu jam setelah injeksi streptozotosin telah diobservasi adanya kerusakan sel ß.






C.  Kayu Ular (Strychnos lucida)  
1.   Persebaran dan Morfologi Kayu Ular (Strychnos lucida)  
Kayu ular tumbuh di tempat berbatu serta beriklim kering. Tanaman ini berukuran kecil seperti tanaman jeruk nipis. Tempat tumbuh tanaman ini terbatas antara lain di Jawa Timur, Pulau Roti, Pulau Timor, Pulau Wetar, dan Maluku Tenggara. Biasanya lokasi tumbuh pada ketinggian 0-500m dpl.
 Secara morfologi, kayu ular (Strychnos lucida) (Gambar. 1)  merupakan pohon kecil bercabang tidak teratur, tegak, tinggi mencapai 12 m, tumbuh liar di hutan dekat pantai. Kayunya keras dan kuat. Daun tunggal, bertangkai, letak berseling, bentuk oval, tepi rata, ujung runcing, panjang 6-12 cm, lebar 3,5-8,5 cm. Bunga ke luar dari ujung tangkai, buah bulat, diameter + 4 cm, warna kuning kemerahan. Batangnya mempunyai kayu yang keras dan kuat berwarna kuning pucat dan tidak berbau. Dan seluruh bagian tanaman ini rasanya pahit (Anonim, 2008).

Gambar.1. Tanaman Kayu Ular (Strychnos lucida)
Sumber. Anonim, 2008


Kayu Ular diklasifikasikan sebagai berikut :
                     Regnum  : Plantae
            Divisi  : Magnoliophyta
                   Kelas : Magnoliopsida
                        Ordo : Gentianales
                               Famili : Loganiaceae        
                                      Genus            : Strychnos
                                             Spesies : Strychnos lucida
2.        Kandungan dan Manfaat Kayu Ular (Strychnos lucida)  
Kayu ular mengandung alkaloid (brusina dan striknina), tannin , steroid/ triterpenoid (saponin). Pada bagian biji dan kayu tanaman ini mengandung zat alkaloida yang mempunyai daya mikroba dan juga sebagai antioksidan. Selain itu, zat tannin dan galat, bermanfaat sebagai penurun panas, melancarkan air seni, dan antiradang. Saponin (steroid dan triterpenoid) dapat menurunkan kadar gula darah dengan salah satu mekanismenya yaitu menghambat pelepasan enzim α-glukosidase yang berasal dari pankreas (Anonim, 2008).
Pada sebagian masyarakat kayu ular juga dimanfaatkan untuk menyegarkan muka, membangkitkan nafsu makan, obat rematik (nyeri persendian), sakit perut, bisul (obat luar), kurap (obat luar), dan radang kulit bernanah (obat luar). Di samping itu kayu ular juga memiliki sifat khas pahit mendinginkan, melancarkan peredaran darah, membersihkan darah, dan beracun (Anonim, 2008).
Kayu ular mempunyai kandungan alkaloid yang mencakup senyawa bersifat basa mengandung satu atau lebih atom nitrogen biasanya dalam gabungan, sehingga merupakan bagian dari sistem siklik. Alkaloid digunakan secara luas dalam bidang pengobatan, walaupun seringkali beracun bagi manusia. Uji sederhana, walaupun tidak sempurna untuk alkaloid dalam daun atau buah segar adalah rasa pahitnya di lidah. Selain bermanfaat untuk menurunkan gula darah, saponin juga bermanfaat sebagai sumber anti bakteri dan anti virus, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan vitalitas, dan mengurangi penggumpalan darah. Kandungan alkaloid dan saponin dalam kayu ular juga dapat berfungsi sebagai antioksidan. Saponin adalah senyawa surfaktan. Dari berbagai hasil penelitian disimpulkan, saponin bersifat hipokolesterolemik, imunostimulator, hipoglikemik, dan antikarsinogenik (Anonim 2008).
Saponin adalah jenis glikosida yang banyak ditemukan di dalam tumbuhan. Saponin memiliki karakteristik berupa buih sehingga ketika direaksikan dengan air dan dikocok maka akan terbentuk buih yang dapat bertahan lama. Saponin mudah larut dalam air dan tidak larut dalam eter. Saponin memiliki rasa pahit menusuk dan menyebabkan bersin serta iritasi pada selaput lendir. Saponin bersifat racun bagi hewa berdarah dingin dan banyak diantaranya digunakan sebagai racun ikan. Saponin yang bersifat keras atau racun biasa disebut sebagai sapotoksin (Anonim 2008).


D.   Ekstraksi Senyawa Aktif Antidiabetes
1.    Definisi
Ekstraksi adalah pemisahan suatu zat dari campurannya dengan pembagian sebuah zat terlarut antara dua pelarut yang tidak dapat tercampur untuk mengambil zat terlarut tersebut dari satu pelarut ke pelarut yang lain (Rahayu, 2009).
2.    Metode Ekstraksi
Metode ekstraksi dipilih berdasarkan beberapa faktor seperti sifat dari bahan mentah obat, daya penyesuaian dengan tiap macam metode ekstraksi dan kepentingan dalam memperoleh ekstrak yang sempurna. Metode dasar penyarian yang dapat digunakan adalah infundasi, maserasi, perkolasi, penyarian dengan soxhlet. Jenis ekstraksi dan bahan ekstraksi mana yang sebaiknya digunakan, sangat tergantung dari kelarutan bahan kandungan serta stabilitasnya. Pemilihan terhadap metode tersebut disesuaikan dengan kepentingan dalam memperoleh sari yang baik (Harini, 2008).
Beberapa metode penyarian antara lain: maserasi, perkolasi dan sokhletasi (Indraswari, 2008).
a.         Maserasi
Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif dan zat aktif akan larut. Simplisia yang akan diekstraksi ditempatkan pada wadah atau bejana yang bermulut lebar bersama larutan penyari yang telah ditetapkan, bejana ditutup rapat kemudian dikocok berulang–ulang sehingga memungkinkan pelarut masuk ke seluruh permukaan simplisia. Rendaman tersebut disimpan terlindung dari cahaya langsung (mencegah reaksi yang dikatalisis oleh cahaya atau perubahan warna). Waktu maserasi pada umumnya 5 hari, setelah waktu tersebut keseimbangan antara bahan yang diekstraksi pada bagian dalam sel dengan luar sel telah tercapai. Dengan pengocokan dijamin keseimbangan konsentrasi bahan ekstraksi lebih cepat dalam cairan. Keadaan diam selama maserasi menyebabkan turunnya perpindahan bahan aktif.
b.        Perkolasi
Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Prinsip perkolasi adalah serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian bawah diberi sekat berpori. Cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif dari sel–sel yang dilalui sampai mencapai keadaan jenuh. Gerak ke bawah disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya sendiri dan cairan diatasnya, dikurangi dengan daya kapiler yang cenderung untuk menahan.
Alat yang digunakan untuk perkolasi disebut perkolator. Bentuk perkolator ada tiga macam yaitu perkolator berbentuk tabung, perkolator berbentuk paruh dan perkolator berbentuk corong.




c.         Sokhletasi
Sokhlet merupakan penyempurnaan alat ekstraksi. Uap cairan penyari naik ke atas melalui pipa samping, kemudian diembunkan kembali oleh pendingin tegak. Cairan turun ke labu melalui tabung berisi serbuk simplisia. Adanya sifon, mengakibatkan seluruh cairan akan kembali ke labu. Cara ini lebih menguntungkan karena uap panas tidak melalui serbuk simplisia tetapi melalui pipa samping.
Pemilihan cairan penyari harus mempertimbangkan banyak faktor. Cairan penyari yang baik harus memenuhi kriteria antara lain : murah dan mudah di peroleh, stabil secara fisika dan kimia, bereaksi netral, tidak mudah menguap dan tidak mudah terbakar, selektif yaitu hanya menarik zat berkhasiat yang dikehendaki, tidak mempengaruhi zat berkhasiat, serta diperbolehkan oleh peraturan.
3.                  Jenis Pelarut Etanol
Etanol adalah cairan tak berwarna yang mudah menguap dengan aroma yang khas dengan rumus kimia C2H5OH. Etanol terbakar tanpa asap dengan lidah api berwarna biru yang kadang-kadang tidak dapat terlihat pada cahaya biasa. Sifat-sifat fisika etanol utamanya dipengaruhi oleh keberadaan gugus hidroksil dan pendeknya rantai karbon etanol (Wikipedia, 2010).
Gambar. 2.  Rumus kimia etanol
Wikipedia, 2010

Ethanol, disebut juga etil alkohol, alkohol murni, alkohol absolut, atau alkohol saja, adalah sejenis cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna, dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Senyawa ini merupakan obat psikoaktif dan dapat ditemukan pada minuman beralkohol dan termometer  modern (Wikipedia, 2010).
Etanol tidak menyebabkan pembengkakan membran sel dan memperbaiki stabilitas bahan obat terlarut. Keuntungan lain, etanol mampu mengendapkan albumin dan menghambat kerja enzim. Umumnya yang digunakan sebagai cairan pengekstraksi adalah campuran bahan pelarut yang berlainan, khususnya campuran etanol-air. Etanol (70%) sangat efektif dalam menghasilkan jumlah bahan aktif yang optimal, dimana bahan penganggu hanya skala kecil yang turut ke dalam cairan pengekstraksi (Indraswari, 2008).
Farmakope Indonesia menetapkan bahwa sebagai cairan penyari adalah air, etanol, etanol-air atau eter. Etanol dipertimbangkan sebagai penyari karena lebih selektif, kapang dan kuman sulit tumbuh dalam etanol 20% keatas, tidak beracun, netral, absorbsinya baik, etanol dapat bercampur dengan air pada segala perbandingan dan panas yang diperlukan untuk pemekatan lebih sedikit. Etanol dapat melarutkan alkaloid basa, minyak menguap, glikosida, kurkumin, kumarin, antrakinon, flavonoid, steroid, damar dan klorofil. Lemak, tanin dan saponin hanya sedikit larut. Dengan demikian zat pengganggu yang terlarut hanya terbatas.
Untuk meningkatkan penyarian biasanya menggunakan campuran etanol dan air. Perbandingan jumlah etanol dan air tergantung pada bahan yang disari (Indraswari, 2008).

                       


















BAB III
METODE PENELITIAN

A.   Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan selama dua bulan di laboratorium Kimia FKIP, dan laboratorium Zoologi FMIPA UNPATTI.
B.  Tipe Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik, dengan menggunakan mencit sebagai hewan uji.
C.   Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan yaitu : kandang mencit, spuit yang ujungnya telah ditumpulkan sebagai alat pencekok, botol minum mencit, pipet tetes, erlenmeyer, neraca analitik, cover glass, glukotest (untuk mengukur kadar gula darah), soxhlet (untuk ekstraksi), rotary evaporator (untuk pemurnian setelah proses ekstraksi).
Bahan yang digunakan yaitu: 15 ekor mencit betina berumur 2-3 bulan dengan berat badan 20-30 gram, ekstrak kayu ular, pakan ayam komersial B1 produksi  Charoen Pockphan untuk makanan tikus, aquades, alkohol, etanol 70%, streptozotocin, dan CMC (Carboxyl Methyl Cellulose).
D.                Prosedur Penelitian
1.  Persiapan Penelitian
            Menyiapkan semua alat dan bahan untuk penelitian yang meliputi :
a.  Menyiapkan hewan uji (mencit) berjumlah 15 ekor, umur 2-3 bulan dengan berat badan 20-30 g.         
b.  Menyiapkan kandang mencit lengkap dengan tempat pakan dan minum.
c.  Menyiapkan ekstrak kayu ular untuk perlakuan hewan uji secara per oral. Prosedur pembuatan ekstrak kayu ular sebagai berikut :
     Kayu ular (Strychnos lucida), ± 300 gram dibersihkan dibawah air mengalir dan dikeringkan dengan cara dijemur dibawah sinar matahari. Setelah kering, kayu ular dikikis hingga menjadi serbuk, kemudian dimasukkan ke dalam soxhlet dan ditambahkan pelarut etanol 70% sebanyak 850 ml. Selanjutnya, ekstrak dipekatkan dengan rotary evaporator dengan suhu 68°C dan kecepatan 115 rpm selama 40 menit. Dari hasil pemekatan tersebut, maka diperoleh ekstrak  kayu ular sebanyak 31,32 g.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar